Strategi Banyuwangi Mendorong Kualitas SDM
Minggu, 17 Mei 2015
JAKARTA - Pemkab Banyuwangi terus berupaya memajukan kualitas sumberdaya manusia (SDM) di daerahnya. Langkah untuk mendorong kualitas SDM dinilai sangat penting untuk fondasi bagi keberlanjutan pembangunan daerah.
"SDM menjadi variabel penting pembentukan daya saing nasional yang merupakan representasi dari daya saing daerah," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat diundang menjadi pembicara dalam diskusi Ulang Tahun ESQ ke-15 bertema "Membangun Karakter Generasi Emas Indonesia" di Jakarta, Sabtu (16/5).
Anas mengatakan, Indonesia pada 2025 mulai akan mengalami bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia non-produktif. Momen bonus demografi perlu dioptimalkan untuk mempercepat pembangunan sosial-ekonomi bangsa. "Bonus demografi adalah momen yang tak boleh dilewatkan. Negara-negara yang kini maju, dulu bisa memanfaatkan momen bonus demografi untuk mempercepat pembangunannya. Karena itu, SDM-nya harus disiapkan sekarang," jelas Anas.
Anas menyebut tiga pilar penting yang harus dikuasai generasi muda. Pertama, bidang ilmu sesuai minat masing-masing. Kedua, teknologi informasi. Ketiga, pemahaman spiritual yang mampu mendorong perubahan, toleran, dan tidak anti-perbedaan.
Di Banyuwangi, sambung Anas, sejumlah hal telah dilakukan. Di antaranya adalah memfasilitasi tumbuh-kembangnya beragam fasilitas pendidikan, mulai dari kampus swasta sampai negeri. Dalam empat tahun terakhir, sejumlah lembaga pendidikan negeri telah hadir di daerah ujung timur Pulau Jawa itu, yaitu Universitas Airlangga (Unair) Kampus Banyuwangi, Sekolah Pilot Negeri, dan Politeknik Negeri. Tahun depan pemerintah juga akan memulai pembangunan Politeknik Kemaritiman.
Selain itu, ada beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu, anak yatim, dan penyandang disabilitas. Total telah digelontorkan sedikitnya Rp7 miliar untuk membiayai 500 mahasiswa asal Banyuwangi berkuliah di berbagai kampus di Indonesia. Untuk meningkatkan daya saing, tahun ini digelar kursus bahasa asing gratis untuk 2.604 anak muda dari seluruh desa di Banyuwangi.
“Ini adalah salah satu strategi pembangunan bidang pendidikan. Banyuwangi tidak hanya fokus pada pengembangan pariwisata dan pertanian, tetapi juga menyiapkan SDM yang berdaya saing," ujar Anas.
Dia menambahkan, sisi kemanusiaan juga disentuh dengan membentuk rasa empati di kalangan generasi muda Banyuwangi. Selama tiga tahun ini telah berjalan program Siswa Asuh Sebaya (SAS) di mana siswa yang erasal dari keluarga mampu secara ekonomi membantu siswa dari keluarga kurang mampu. Secara berkala di setiap sekolah, para siswa menggalang dana sukarela untuk membantu biaya pendidikan temannya yang kurang mampu. Hingga 2014, total dana SAS telah terkumpul hampir Rp2 miliar dengan jumlah siswa penerima manfaat mencapai lebih dari 6.100 siswa dari 312 sekolah di seluruh wilayah Banyuwangi.