Tahun Ini Banyuwangi Direncanakan Dapat Sertifikasi Bebas Malaria
Rabu, 4 Februari 2015
BANYUWANGI - Tahun ini Banyuwangi direncanakan mendapatkan sertifikasi bebas malaria. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan dr Widji Lestariono melalui Kepala Bidang Pencegahan Penyakit,Waluyo. Rabu (4/2).
Waluyo mengatakan, tidak mudah mendapatkan predikat bebas malaria, bahkan hingga membuahkan
sertifikasi. "Kita harus menjaga tidak boleh ada kasus indigenus (kasus yang berasal dari daerah sendiri, Red), serta berusaha melenyapkan vektor penular (nyamuk malaria, Red)," terang Waluyo.
Sertifikasi bebas malaria ini, sambung Waluyo, bisa diperoleh Banyuwangi asalkan sampai Maret 2015 nanti tidak ada kasus malaria di Banyuwangi.
"Sertifikasi atau pernyataan bebas malaria itu 'bonus' bagi kita, tapi yang paling penting adalah upaya kita bersama masyarakat untuk terus mengupayakan agar wilayah kita terhindar dari penyakit ini," tutur Waluyo.
Pemberian sertifikasi untuk Banyuwangi ini tidak serta merta. Sebelumnya, Oktober 2014 lalu tim penilai dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan assesment (penilaian) dengan turun langsung ke Bumi Blambangan. Buntut dari penilaian itulah yang membuahkan sertifikasi.
"Namun kita tetap perlu me-maintance hal ini, agar prestasi bebas malaria yang berdampak bagus bagi dunia pariwisata Banyuwangi bisa terus berlanjut,"kata Waluyo.
Perlu diketahui, tahun 2011 lalu, Banyuwangi pernah dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria. Saat itu, jumlah penderitanya di Kabupaten Banyuwangi mencapai 144 kasus, dengan prosentase kasus
terbanyak di Kecamatan Wongsorejo sebanyak 96 kasus.
Mengapa Banyuwangi sampai dinyatakan KLB Malaria? Karena di Banyuwangi, khususnya di wilayah Wongsorejo terdapat 5 lagoon/laguna. Lagoon adalah area yang menghubungkan laut dengan sumber air tawar. Otomatis, airnya akan berasa payau. Areal ini menjadi lahan favorit perindukan malaria, selain areal parit dan sungai yang tidak mengalir. Malaria adalah nyamuk yang suka berkembangbiak di genangan-genangan air yang dasarnya adalah tanah.Salah satunya yang terbesar adalah Lagoon di Dusun Kandangan, Desa Bangsring.
Pasca ditetapkan KLB malaria tahun 2011 lalu, gerakan pembersihan menyeluruh terus dilakukan,utamanya untuk memberantas nyamuk malaria yang asli Banyuwangi. Sehingga tahun 2012 dan 2013 tak lagi ditemukan kasus malaria dari nyamuk indigenus, melainkan kasus yang disebabkan oleh keluar masuknya orang dari luar Banyuwangi (kasus impor)."Kita tidak bisa membatasi keluar masuknya orang,"kata Waluyo.
Karena itu ditempuh beberapa cara, di antaranya bekerjasama dengan puskesmas. "Di Wongsorejo terdapat Balai Pelatihan Perikanan yang sering menerima tamu dari kabupaten-kabupaten di luar Pulau Jawa seperti Papua yang termasuk endemis malaria. Pihak Balai Pelatihan Perikanan kemudian akan sigap menghubungi puskesmas untuk memeriksa para tamu tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan penularan malaria kepada warga Banyuwangi.
Penyebaran malaria juga diputus mata rantainya lewat beberapa hal. Seperti yang dilakukan warga Desa Bangsring beberapa waktu lalu. Menamakan dirinya Gerakan Bangsring Membasmi Malaria (Gerbang Basmala), mereka secara masal membersihkan lingkungannya. Gerakan ini bahkan mendapatkan apresiasi dari Kemenkes.
Kegiatan ini berlanjut dengan kegiatan bersih-bersih pada 30 Januari lalu oleh seluruh warga masyarakat bersama Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) dan aparat setempat. Mereka sampai melibatkan alat berat untuk mengeruk lagoon yang ada. Bahkan lagoon yang besar baru saja dijebol dan ditutup dengan gorong-gorong.
Tak hanya itu, warga Wongsorejo juga mendapatkan pembagian kelambu untuk dipasang di tempat tidur masing-masing. Kelambu tersebut mengandung bahan insektisida tapi tidak berbahaya bagi manusia, hanya berbahaya untuk nyamuk. Pembagian kelambu itu dilakukan hingga radius 1 - 2 Km dari lokasi penyebaran.
Nyamuk malaria menggigit pada malam hari, berbeda dengan nyamuk demam berdarah yang menggigit di siang hari. Sehingga, orang yang suka memancing di Wilayah Wongsorejo selalu dihimbau untuk menggunakan salep anti nyamuk atau baju pengaman seperti baju lengan panjang, kaos kaki,dan sarung tangan.
Untuk penanganan malaria, ujar Waluyo, Dinkes juga sudah mempersiapkan obat khusus anti malaria (OAM / Obat Anti Malaria). Saat ini pil kina yang dulu dikenal sebagai obat malaria yang ampuh, tak lagi dipakai di Indonesia. Sebab nyamuk malaria di Indonesia sudah resistant dengan obat itu. Namun di luar negeri, pil kina masih digunakan, sebab resistensi nyamuk malaria di sana berbeda dengan di daerah-daerah endemis. (Humas & Protokol)