Tajamkan Visi ke Depan, Para Pemuda Gagas Dialog Sumpah Pemuda

Selasa, 29 Oktober 2013


BANYUWANGI – Untuk menajamkan visi dan misi ke depan, para pemuda yang tergabung dalam Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi duduk bersama menggagas dialog sumpah pemuda, Senin (28/10). Sejalan dengan peringatan sumpah pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober, moment ini sekaligus juga dimanfaatkan untuk mengenang kembali peristiwa penting di masa lalu terkait peran serta kaum muda dalam mengupayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Meski tergolong serius, kegiatan ini mendapatkan apresiasi peserta yang hadir. Mereka juga terlihat bersemangat mengikuti sesi demi sesi.

Dialog bertajuk ‘ Janji yang Terlupakan’ ini menghadirkan nara sumber yang menginspirasi generasi muda. Yakni Taufiqurrohman, akademisi muda dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan Sri Wilujeng, Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Sementara, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang membuka acara tersebut juga turut memberikan motivasi kepada seluruh audiens untuk terus bersemangat dan berkomitmen membangun negeri. “Anak-anak muda saat ini menghadapi tantangan yang begitu berat. Tak heran jika kemudian pendidikan karakter seperti pramuka mulai diaktifkan kembali. Sebab rata-rata pelajar sekarang sibuk ikut les di sana-sini, sementara hubungan sosial mereka dengan masyarakat makin jauh,”ujar bupati.

Lantas apa saja tantangan nyata yang dihadapi pemuda saat ini? Bupati menjabarkan, yang pertama, Indonesia merupakan negara yang hidupnya dibiayai oleh sektor pajak. Namun, ironisnya justru warga negara Indonesia masih banyak yang belum taat membayar pajak. Karenanya mesti disadarkan kepada generasi muda akan pentingnya membayar pajak. Yang kedua, Indonesia menjadi negara terbesar kedua di dunia dalam hal peredaran narkoba. Kondisi itu kemudian juga diikuti dengan maraknya konsumsi  minuman keras dan film porno, utamanya di kalangan pelajar. “Sebagai generasi penerus, kita harus berani mengabdikan diri menjadi relawan untuk menghalau miras, narkoba dan pornografi itu,”tandas bupati yang juga pernah aktif berkecimpung dalam Pengurus Pusat  IPNU tersebut. Bupati Anas tercatat pernah menjabat sebagai Sekjen PP IPNU pada tahun 1996-2000, dan sebagai Ketua Umum IPNU periode 2000-2003. Tantangan lainnya, tambah bupati, adalah adanya community ASEAN tahun 2015 mendatang, dimana sudah tak ada lagi batas antara Indonesia dengan negara asing. “Jika kita tak pandai belajar membaca situasi dan menangkap kesempatan, maka kita akan tergilas,”kata bupati.

Dalam acara yang diselenggarakan di Pelinggihan Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu, salah satu nara sumber, Taufiqurrohman, mengajak peserta yang rata-rata pelajar dan mahasiswa untuk merenung. Menurutnya, soal serius yang dipertanyakan sejak dulu adalah kedaulatan bangsa. “Apakah kita masih punya kedaulatan bangsa? Selain itu juga, soal kemandirian,”tanya Taufiqurrohman yang sukses mengantarkan putranya menjadi anak berprestasi, baik di bidang akademis maupun kemampuan menulis novel.

Taufiqurrohman, pria yang lahir dan menghabiskan masa remaja di Banyuwangi, namun kemudian tinggal di Yogyakarta ini mengatakan, ukuran paling sah untuk melihat kedaulatan adalah di desa.  Yaitu antara lain kedaulatan soal pangan. Bagaimana petani-petani kita harus tetap survive bertani meski dalam keterbatasan lahan, kesulitan mengairi sawah, mahalnya harga pupuk. Bagaimana mengantisipasi profesi petani yang kini tak lagi populer di kalangan generasi muda. Yang kedua,  kedaulatan budaya. Di Indonesia,  kebudayaan oleh sebagian besar warganya tak lagi menjadi keunggulan yang diagung-agungkan. Padahal wisatawan asing saja saat ini tak hanya sekedar tertarik pada tempat yang eksotik, melainkan juga pada desa wisata yang menyuguhkan persawahan lengkap dengan ragam budaya di sekitarnya. Yang terakhir adalah kedaulatan pendidikan. “Seyogyanya kita belajar dari dolanan anak-anak di masa lalu yang mengajarkan berbagai hal pada kita,”tegas Taufiq yang menyatakan langkah yang harus segera dilakukan adalah kembali ke desa untuk melakukan revitalisasi pangan, kebudayaan dan pendidikan. “Kini saatnya budaya dan pariwisata mulai mengangkat kearifan lokal (local wisdom),”pungkasnya. (Humas & Protokol)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :