Tangani HIV/AIDS, KPA dan Pemkab Perkuat Koordinasi Lintas Sektoral
Rabu, 19 Maret 2014
BANYUWANGI - Jumlah penderita penyakit mematikan HIV/AIDS di Banyuwangi per Januari 2014 dinyatakan telah menembus angka 1703 orang. Untuk menangani peningkatan penyebaran penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banyuwangi bekerjasama dengan pemkab melakukan penguatan koordinasi lintas sektoral, Rabu (19/3) di aula Badan Pemberdayaan Masyarakat-Pemerintahan Desa (BPM-PD).
Sejumlah pihak dilibatkan untuk urun rembug, di antaranya Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), dan Polres Banyuwangi. Juga ada LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, media dan para relawan peduli AIDS.
Kegiatan yang bertajuk 'Semiloka Strategi Pengendalian HIV/AIDS Kabupaten Banyuwangi dalam Mensukseskan MDG's 2015' itu dimaksudkan sebagai upaya mencari solusi bersama untuk mengendalikan permasalahan HIV/AIDS. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko ketika membuka acara tersebut. "Selama ini koordinasi lintas sektoral kita dalam menangani kasus HIV/AIDS masih lemah. Masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri, sehingga apa yang kita tuju tidak tercapai. Inilah saatnya semua pihak duduk bersama, merumuskan aksi strategi bersama,"ujar wabup yang juga menjabat sebagai Ketua KPA Kabupaten Banyuwangi ini. Fenomena HIV/AIDS disebut-sebut bagai fenomena gunung es. Yang terlihat puncaknya saja. Tapi tidak diketahui berapa jumlah penderita sebenarnya. Melalui semiloka ini wabup berharap muncul ide-ide brilian untuk menekan angka tersebut.
Dua nara sumber dihadirkan untuk lebih menunjukkan pada para pihak, sejauh mana penyebaran virus HIV/AIDS ini. Dan apa saja yang telah dilakukan KPA dan Pemkab Banyuwangi untuk menangani penyakit ini. Nara sumber tersebut adalah Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr. H. Widji Lestariono,MM, MKes dan Ketua KPA Provinsi Jawa Timur, Dr R. Otto Bambang Wahyudi,MSi,MM.
Menurut salah satu nara sumber, dr Rio - panggilan akrab Plt Kepala Dinkes - saat ini banyak perilaku yang membahayakan generasi muda. Diantaranya kehamilan yang tidak diinginkan, maraknya persetubuhan di bawah umur, kecanduan narkoba dan pergaulan bebas, yang kesemuanya itu menjadi pintu masuk penularan HIV/AIDS. Dibutuhkan peran serta masyarakat dan orang tua untuk mencegah dan mengarahkan putra-putrinya. Di Banyuwangi sendiri, tutur dr Rio, jumlah penderita HIV/AIDS yang mencapai 1703 orang, menempatkan Banyuwangi di peringkat ke-3 di Jatim setelah Surabaya dan Malang.
Dokter Rio menegaskan, tidak perlu malu mengungkap data tingginya jumlah penderita HIV/AIDS Banyuwangi. Sebab,tuturnya, pihaknya benar-benar bekerja, mengupayakan penghitungan jumlah penderita yang sebenarnya, sehingga ke depan ada upaya konkret yang bisa ditempuh untuk menanganinya." Menurut ilmu epidemilogi, 1 kasus yang sudah ditemukan, sebetulnya mewakili 100 kasus. Jadi jika jumlah penderita HIV/AIDS Banyuwangi 1703 orang, maka itu sama artinya, di Banyuwangi ada 170.300 kasus,"jelasnya. Berarti,lanjutnya, di tiap-tiap kecamatan rata-rata ada 6000-an penderita HIV/AIDS. Ke-1703 penderita HIV tersebut, 786 diantaranya sudah masuk ke dalam tahap AIDS. Dan hingga Januari 2014, sudah terdapat 284 kasus kematian Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Sejak kasus pertama ditemukan di Kecamatan Genteng pada tahun 1999 (1 penderita HIV/AIDS) hingga saat ini, ada 4 kecamatan di Banyuwangi yang masuk 4 besar penderita HIV/AIDS-nya tertinggi, yakni Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Singojuruh dan Muncar.
Sejalan dengan target MDG's 2015, dimana pengendalian HIV/AIDS masuk di urutan ke 6, untuk menekan meningkatnya jumlah penderita, di Banyuwangi ditargetkan pada 2015 semua puskesmas sudah dapat melayani ODHA. Juga akan dikembangkan klinik Infeksi Menular Seksual (IMS), Voluntary Counseling Test (VCT) dan rumah sakit rujukan ODHA, serta diupayakan semua puskesmas di kabupaten Banyuwangi punya klinik VCT. Saat ini di Banyuwangi baru ada 15 puskesmas (dari total 45 puskesmas) dan 2 rumah sakit yang memiliki VCT.
Tantangan yang kini dihadapi untuk menekan angka pertumbuhan jumlah penderita HIV/AIDS , tandas dr Rio, perlahan-lahan harus teratasi. Seperti terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan dalam pengendalian HIV/AIDS, terbatasnya ketersediaan alokasi anggaran, masih lemahnya koordinasi lintas sektoral dan sistem monitoring dan evaluasi, masih tingginya stigma dan diskriminasi ODHA di masyarakat, serta masih rendahnya cakupan obat ARV (Anti Retro Viral) sebagai penghambat pertumbuhan virus.
Kegiatan yang berlangsung satu hari penuh ini juga diisi dengan diskusi untuk menentukan langkah ke depan, merumuskan penanganan yang tepat untuk mengendalikan dan memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS.(Humas & Protokol)