Tertarik Cara Banyuwangi Entaskan Kemiskinan, Kota Samarinda Kunker ke Banyuwangi

Selasa, 16 Juni 2015


BANYUWANGI – Terkesan akan  berbagai kemajuan yang berhasil diraih Banyuwangi, termasuk bagaimana Banyuwangi mengentaskan kemiskinan yang ada, membawa Kota Samarinda, Kalimantan Timur berkunjung ke kabupaten paling timur Pulau Jawa ini, Selasa (16/6). Rombongan yang dipimpin oleh Wakil Walikota Samarinda, Nusyirwan Ismail ini ditemui Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko dan  Asisten Administrasi Pembangunan &  Kesra, Wiyono di Kantor Pemkab Banyuwangi.

Secara blak-blakan, Nusyirwan yang mengaku merasa punya kedekatan batin dengan Banyuwangi ini mengungkapkan rasa senangnya berkesempatan untuk menimba ilmu di Banyuwangi. “Almarhum mertua saya ini orang Banyuwangi dan dimakamkan di Banyuwangi, makanya kami kalau nyekar setiap tahun selalu kemari. Karenanya, bisa berkunjung ke kabupaten yang tidak pernah berhenti berinovasi ini membuat saya serasa pulang kampung,” seloroh Nusyirwan yang juga didampingi istrinya ini.

Sebagai Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di daerahnya, Nusyirwan mengatakan, belum banyak upaya yang ditempuhnya bersama tim untuk menekan angka kemiskinan di wilayahnya  yang mencapai 36.600 orang (4,63 persen). Pihaknya terketuk untuk datang ke Banyuwangi untuk sharing setelah banyak membaca di media nasional bahwa Banyuwangi mampu menekan angka kemiskinannya dari yang semula 20,09 persen hingga kini menjadi 9,57 persen dalam  kurun waktu empat tahun terakhir. 

Dalam forum yang berkesan serius tapi santai tersebut, Nusyirwan bersama rombongan langsung diajak berdialog dan berdiskusi. Kepala BAPPEDA Banyuwangi, Agus Siswanto  didhapuk untuk menjelaskan apa saja upaya yang ditempuh Pemkab Banyuwangi untuk meminimalkan angka kemiskinan di Banyuwangi.

Agus menjelaskan, pemkab punya beragam strategi untuk mengentaskan masyarakat miskin. “Kami selalu mengupayakan gotong royong dengan seluruh stake holder seperti LSM, TNI/Polri, swasta dan perbankan. Ini tidak bisa kami atasi sendiri. Dengan bersinerginya seluruh pihak, secara bertahap tingkat kemiskinan bisa kami tekan,” tutur Agus.

Agus juga menceritakan bahwa pengentasan kemiskinan di Banyuwangi tidak bertumpu pada APBD, melainkan berdasarkan pada Corporate Social Responsibility (CSR)yang diberikan oleh perusahaan maupun perbankan dan juga public policy. “Ini sudah berjalan selama 3 tahun. Sebagai contoh, di Kecamatan Kalipuro yang tingkat kemiskinannya paling tinggi di Banyuwangi, berkat CSR tersebut dari yang semula tingkat kemiskinannya 40 persen, sekarang tinggal 4 persen saja,” tandas Agus.

Selain itu, terang Agus, Banyuwangi juga membuat inovasi-inovasi seperti membentuk satgas pemburu kemiskinan di tiap desa, dan membuat festival bedah rumah untuk mengetuk hati para dermawan agar  mau menyumbang dan membenahi rumah masyarakat miskin hingga tuntas. Di bidang kesehatan, ada Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jamkesmin. Di bidang pendidikan ada beasiswa Banyuwangi Cerdas yang didukung pula oleh program Siswa Asuh Sebaya (SAS). Program ini sangat bermanfaat  bagi anak-anak orang miskin namun punya kemampuan akademik yang bagus untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Tak hanya itu. Bekerjasama dengan Jamsostek, juru parkir, penderes kelapa, pesapon juga diasuransikan sehingga mereka bisa merasa nyaman dalam bekerja dan tidak was-was apabila terjadi apa-apa. Juga ada Badan Amil Zakat (BAZ) bentukan Pemkab Banyuwangi yang selama ini efektif mengentaskan masyarakat miskin. BAZ secara aktif memberikan bantuannya dalam gerakan Banyuwangi Peduli, Banyuwangi Berbagi, termasuk memberikan santunan untuk anak yatim dalam berbagai acara yang digelar pemkab.

Rumah Tangga Miskin yang produktif juga tidak lepas dari bantuan pemkab. Misalnya dengan diberikannya bantuan modal bagi Yu Nah dan Yu Tun, maupun bantuan bedah warung. Pemberantasan buta aksara yang dimaksudkan untuk meningkatkan Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM) juga gencar dilakukan hingga saat ini membuahkan zero buta aksara di Banyuwangi. Sementara untuk kaum mudanya juga mendapatkan pengawalan peningkatan skill melalui pelatihan internet marketing dan kursus bahasa asing berbasis desa.

Mendengar penjabaran tersebut, Nusyirwan beserta rombongan yang tampak menyimak dengan serius menyatakan rasa salutnya atas langkah yang ditempuh Banyuwangi. “Ini luar biasa. Kami akan terapkan dan implementasikan berbagai hal positif yang kami dapat dari Banyuwangi segera,”pungkasnya. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :