Tertarik Penerapan TI di Desa – Desa, Kabupaten Pinrang Sulsel Belajar ke Banyuwangi

Selasa, 24 Oktober 2017


BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi kembali kedatangan tamu dari kabupaten lain untuk belajar, Selasa (24/10). Kali ini Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan yang secara khusus datang  jauh - jauh ke kota di  ujung Pulau Jawa ini.
Rombongan yang terdiri atas 15 orang ini diterima Kepala BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo. Dipimpin Kepala Dinas Telekomunikasi dan Informatika Kabupaten Pinrang, Mohamad Zainal Hafiq, rombongan langsung terlibat diskusi di Lounge Pelayanan Publik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
“Kami sangat tertarik untuk belajar tentang  aplikasi yang dimiliki Banyuwangi. Kami banyak mendengar bahwa semua sistem yang ada di Banyuwangi semuanya telah terintegrasi dengan TI,” ujar Zainal.
Bahkan, lanjut Zainal, penggunaan TI tersebut juga telah digunakan pada kegiatan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang), penganggaran, pengadaan hingga aset.
“Kami ingin tahu kiatnya, bagaimana bisa mengintegrasikan hal tersebut secara menyeluruh. Kami penasaran bagaimana Banyuwangi bisa membangun jaringannya. Termasuk mengintegrasikan desa-desa di Banyuwangi dengan TI,” kata Zainal.
Di Pinrang, imbuh Zainal, seluruh SKPD telah terhubung dengan jaringan. Pihaknya ingin belajar lebih jauh bagaimana cara mengintegrasikannya dengan desa-desa yang menurutnya membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kepala BAPPEDA Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo mengaku, untuk membangun sistem yang terintegrasi dengan TI awalnya tidak mudah. “Di awal kami juga mengalami kesulitan. Uji coba pelaporan anggaran, pengadaan, hingga  aset mulanya kami buat per tri wulan. Namun secara bertahap, kami mengubahnya menjadi per bulan. Perlahan-lahan semua SKPD akhirnya bisa menyesuaikan diri,” tutur pria yang karib disapa Yayan ini.
Sementara untuk desa, kata Yayan, Banyuwangi  punya 189 desa. Dari 189 desa tersebut 115 diantaranya telah terkoneksi dengan fiber optic. Sisanya akan dituntaskan hingga akhir tahun ini. Sehingga nantinya seluruhnya terhubung dengan fiber optic.
Yayan menjelaskan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menggagas program”Smart Kampung”, yakni program pengembangan desa terintegrasi yang memadukan antara penggunaan TIK berbasis serat optik, peningkatan kualitas pelayanan publik, kegiatan ekonomi produktif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan. 
”Syarat Smart Kampung adalah ketersediaan TIK sebagai tulang-punggung percepatan pelayanan publik di tingkat desa, sehingga kita butuh fiber optic sampai ke desa-desa,” ujarnya.
Sebagai kabupaten terluas di Pulau Jawa, sambung Yayan, jarak desa dan pusat kota di Banyuwangi bisa sangat jauh. Waktu tempuh dari desa terujung ke pusat kota bisa mencapai 3 jam. Luas Banyuwangi yang mencapai 5.700 kilometer persegi kerap membuat pelayanan publik banyak memakan biaya. Warga yang membutuhkan dokumen kependudukan harus menuju ke kantor kecamatan atau pusat kota yang cukup jauh lokasinya.
Dengan Smart Kampung, urusan itu diselesaikan di tingkat desa. Tapi, tandas Yayan,  tentu butuh jaringan TIK yang kuat karena yang berjalan adalah datanya, bukan orangnya.
Percepatan pemasangan infrastruktur teknologi informasi ini, kata Yayan, juga sebagai salah satu  cara pemerintah meningkatkan daya saing daerah, selain membangun infrastur jalan, jembatan, dan bandar udara. ”Infrastruktur TIK ini tidak hanya berfungsi untuk mempercepat pelayanan publik, tapi juga meningkatkan daya saing warga desa secara umum, karena bisa dimanfaatkan untuk belajar, berbisnis, menambah jejaring, dan sebagainya,” pungkas Yayan. (*)

 

 

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :