Tiga Musisi Jazz Papan Atas Ajak Nostalgia Nuansa Baru
Jumat, 7 November 2014
BANYUWANGI- Konser Jazz Ijen untuk kemanusiaan dipastikan bakal meriah. Seluruh musisi jazz yang akan mengisi pertunjukan musik amal ini telah tiba di Banyuwangi tadi siang, Jum’at (7/11). Dengan menggunakan penerbangan Garuda, Fariz RM, Imaniar, Deddy Dhukun mendarat di Bandara Blimbingsari. Ketiga musisi tidak sendiri, mereka datang bersama musisi lain, seperti Inang Noorsaid, Idham Noorsaid, Franky Sadikin, Jalu Gatot Pratidina dan Abraham Lembono.
Dari bandara, rombongan semua artis dan musisi langsung menuju pendopo kabupaten. Saat tiba di pendopo, mereka dijamu makan siang dengan sajian kuliner khas Banyuwangi, sambil diiringi musik angklung using. Mereka tampak menikmati suguhan yang disajikan. Sebelumnya mereka sempat berkeliling area pendopo melihat guest house dan rumah using.
Puas menyantap kuliner para artis pendukung jazz Ijen menggelar konferensi pers didampingi Bupati Abdullah Azwar Anas. Dalam konferensi pers ketiga musisi ini menyampaikan konsep musik yang akan ditampilkan besok. Fariz RM siap mengajak penonton bernostalgia dengan hits-nya seperti Barcelona, Sakura dan Nada Kasih. “Saya akan meng-combine musik jazz dengan beberapa unsur tradisional. Pokoknya penyajiannya akan lebih unik, kaya, energik dan improvisatif. Tetapi tetap tidak akan menghilangkan nuansa nostalgia di era lagu itu,” kata Fariz RM.
Sedangkan Deddy Dhukun akan ngejazz dengan improvisasi penuh. Deddy akan mengeksplorasi musik jazz secara spontan bersama musisi lainnya di atas panggung, dengan lagu-lagu hits-nya, seperti Masih Ada, Biru dan Keraguan.
Imaniar-pun siap tampil maksimal bersama Inang Noorsaid dkk. Imaniar merasa sambutan masyarakat Banyuwangi begitu hangat terhadap musik jazz. “Begitu sampai di sini saya merasa nyaman dan langsung dapat feel untuk tampil besok. Pasti besok bakal seru kita siap tampil gila bikin suasana dan warna baru meski materi lama,” kata Imaniar penuh semangat.
Pelantun hits “Kacau” di era 80- an ini, juga sempat menyatakan kesannya tentang Banyuwangi. Dia tidak menyangka Banyuwangi begitu maju dan menyenangkan. “Saat tiba di bandara saya merasa seperti tidak sedang berada di Indonesia. Semenjak turun dari pesawat hingga masuk ke kota semuanya tertata rapi dan bersih seperti di Eropa,” kata Imaniar.
Sementara Inang Noorsaid, pimpinan project ini siap mengkolaborasi musik jazz dengan musik etnik perkusi. Untuk kolaborasi etnik ini Inang akan menggandeng maestro perkusi Indonesia Jalu Gatot Pratidina. Hasil kolaborasi ini akan dijadikan project baru sebagai benchmark bagi komunitas jazz di luar negeri. “Setiap detail perform kita besok akan direkam untuk diunggah ke youtube supaya teman-teman kita di luar negeri bisa melihat,” pungkas Inang. (Humas Protokol)