Tim Penilai Kompetisi Pemanfaatan Geospasial Apresiasi Inovasi Banyuwangi
Rabu, 27 September 2017
BANYUWANGI - Tim penilai kompetisi Inovasi Pemanfaatan Geospasial dari Badan Informasi Geospasial (BIG) Nasional melakukan tinjau lapang ke Banyuwangi. Menurut BIG, Banyuwangi dinilai sangat inovatif dalam memanfaatkan GIS.
Mereka datang melakukan verifikasi lapangan sebagai tindak lanjut masuknya Banyuwangi sebagai enam besar kompetisi inovasi pemanfaatan geospasial. “Dua hari ini kami melakukan penilaian langsung aplikasi-aplikasi pemanfaatan geospasial yang dibuat Banyuwangi. Kami ingin melihat implementasinya seperti apa di lapangan. Apakah sudah sesuai dengan yang dipaparkan atau tidak,” ujar Ketua tim juri Heri Sutanta, Rabu (27/9).
Sebelumnya, tim juri telah melakukan dua tahapan awal penilaian, yaitu penilaian dokumen dan presentasi terkait inovasi pemanfaatan informasi geospasial (IG) untuk mendukung program-program pemerintah daerah. Dari hasil penilaian tersebut, tim juri memutuskan Banyuwangi sebagai salah satu dari enam finalis terbaik dalam kompetisi dimaksud.
“Kami sangat mengapresiasi Banyuwangi karena mampu melakukan lompatan besar dalam pemanfaatan IG. Kami nilai, Banyuwangi telah berhasil menelurkan inovasi menarik untuk percepatan pelaksanaan program-program daerahnya,” kata Heri.
Pada tahun Banyuwangi mengusung empat programnya untuk dikompetisikan. Mulai program UGD Kemiskinan, e-monitoring system, bidang pendidikan, hingga program MODUIT (mobile, terpadu, dan berbasis IT) dari Puskesmas Sobo.
Dalam penilaian ini, tim juri langsung terjun ke lapangan melihat dari dekat aplikasi Unit Gawat Darurat (UGD) Kemiskinan melalui androit. Juri yang terdiri dari 5 orang tersebut langsung mensurvey rumah penduduk miskin. Mereka mencari alamatnya melalui peta digital untuk membuktikan akurasi data dan koordinat seperti yang dipaparkan oleh Pemkab Banyuwangi.
“Kami tadi langsung mencari rumah warga miskin sesuai dengan koordinat yang ditunjukkan oleh aplikasi. Ternyata orangnya memang ada, dan kondisinya memang miskin. Selain itu, kami juga mengeksplorasi secara mandiri melalui laptop, untuk melihat sistem radiusnya. Akurat," kata dia.
Menurut Hery implementasi GIS di Banyuwangi ini sudah tepat. Memanfaatkan GIS untuk program pembangunan, dinilainya sangat tepat untuk meningkatkan tata kelola pemerintaha yang baik.
"Kesimpulannya, bagi kami Banyuwangi ini sangat inovatif dalam memanfaatkan GIS. Saya bilang sudah selangkah lebih maju dibanding daerah lain. Meskipun, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan dan dibenahi, namun secara keseluruhan bagus,” imbuhnya.
Secara terpisah, Bupati Anas menjelaskan bahwa pemkab telah memiliki program penanggulangan kemiskinan dengan memanfaatkan GIS. Dimana jumlah warga miskin daerah dipetakan secara digital mulai titik koordinat wilayahnya, jumlah keluarga miskinnya, kategori kemiskinannya hingga jenis bantuan yang diberikan terpetakan secara detail by name dan by adress.
“Jadi begitu aplikasinya dibuka akan nampak dalam peta kecamatan atau desa mana yang akan dilihat. Begitu diklik lagi akan muncul jumlah penduduk miskin dan kategorinya, bahkan foto rumahnya juga ada. Ini memudahkan pemantauan dan jenis intervensi terhadap penduduk miskin,” terang Anas.
Selain UGD Kemiskinan, ada program E-monitoring System (EMS) yang memuat pemetaan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan desa mulai sebelum, proses pengerjaan, hingga hasil akhirnya. IG juga diterapkan untuk memetakan pendidikan di Banyuwangi yang memuat mulai sebaran sekolah tingkat SD hingga SMA/SMK hingga jumlah rasio guru dan siswa perkelas. Termasuk Puskesmas Sobo Banyuwangi yang memanfaatkan geospasial dengan cara setiap ada kasus kesehatan, mereka akan menandai wilayah tersebut dan memetakannya. (*)