Tingkatkan Ketahanan Rumah Tangga, Bakesbangpol Gelar Sarasehan
Rabu, 27 April 2016
Banyuwangi – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar sarasehan dengan para tokoh lintas agama. Pertemuan rutin kali ini mengangkat tema “Meningkatkan Peran Tokoh Agama Dalam Membentuk Ketahanan Rumah Tangga Dalam Upaya Pencegahan Pengaruh Faham Radikalisme dan Penyalahgunaan Narkoba”.
Pertemuan rutin tersebut digelar di Aula Gedung Serba Guna Wihara Tri Dharma, Rabu (26/4). Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bakesbangpol Djafri Yusuf mengatakan keluarga merupakan landasan pertama membangun generasi muda dengan mental yang baik. Setelah ditelusuri, lanjut Djafri, permasalahan masyarakat yang muncul saat ini cenderung terjadi dari keluarga yang kurang harmonis. Seperti kejadian perceraian yang bisa bertampak buruk pada psokologis anak. Hal tersebut memicu penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja.
“Sarasehan ini sengaja kami gelar untuk mensosialisasikan pentingnya ketahanan rumah tangga. Kita akan kupas tuntas bersama nara sumber, faktor penyebab perceraian, dampak dan upaya menguranginya dari factor psikologis. Bukan itu saja, bahaya penyalahgunaan obat-obatan terlarang juga akan dipaparkan di sini. Harapan kami, para tokoh agama bisa meneruskan hasilnya kepada jamaah mereka,” kata Djafri.
Sarehan ini menghadirkan dua nara sumber, Kasat Narkoba Polres Banyuwangi, AKP Agung Setyabudi dan dokter spesialis kejiwaan, dr. Agustina Sjenny, Sp. Kj. Acara tersebut dihadiri 100 orang tokoh lintas agama.
Dokter Sjenny menyampaikan topik aspek psikologis perceraian dan penyalahgunaan NAPZA. Sjenny, sapaan akrabnya, mengatakan perceraian akan membawa sejumlah dampak psikologis kepada anak. Diantaranya perasaan terluka, bingung, marah dan tidak aman. Hal seperti ini, akan memicu anak cenderung berperilaku negatif. “Biasanya mereka akan menjadi bandel, pesimis, penakut, dan susah konsentrasi. Anak juga akan merasa kecewa dan frustrasi. Anak yang seperti ini, akan memiliki kecenderungan melampiaskannya dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan peraturan termasuk terlibat pergaulan bebas dan Narkoba. Ini adalah bentuk sikap berontak mereka,” kata Sjenny.
Untuk mengantisipasi terjadinya kenakalan remaja seperti ini, lanjutnya, angka perceraian harus ditekan. Menurut nya, kunci untuk menanggulangi perceraian adalah menerima pasangan apa adanya dan menjalin komunikasi yang baik antara suami-istri. “Keterbukaan harus dibangun antara keduanya. Mereka pun harus saling menghargai pasangannya, jangan sampai ada kesan menyudutkan,” pungkas Sjenny. (Humas).