Tingkatkan Nilai Jual, Banyuwangi Latih IKM Produksi Batik Warna Alam
Sabtu, 19 Maret 2016
BANYUWANGI - Banyuwangi terus mengembangkan kreasi produksi batiknya. Salah satu caranya dengan melatih 40 pelaku industri kecil menengah (IKM) batik dan pembatik pemula cara membatik dengan warna alam.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo menuturkan perkembangan industri batik di Banyuwangi terus meningkat seiring dengan perkembangan pariwisata di Banyuwangi. Untuk memberikan nilai lebih terhadap batik Banyuwangi, Disperindag mulai gencar mengkampanyekan pemakaian pewarna alam pada pelaku usaha batik, salah satunya lewat pelatihan penggunaan pewarna alam.
“Pada pelatihan ini peserta diberikan materi tentang desain motif batik, praktek mendesain motif batik, mencanting sampai pewarnaan dengan warna alam. Mereka juga diajari cara membuat warna alam dari bahan-bahan yang bisa ditemukan di lingkungan sekitar,” kata Hary saat meninjau pelatihan membatik di sanggar Sekar Bakung, Kelurahan Bakungan, Glagah, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan Hary, pewarna alam memiliki banyak keungulan dibandingkan batik warna sintetis. Selain ramah lingkungan, bahan bakunya juga lebih murah. Pewarna alam lebih mudah didapatkan dari lingkungan sekitar dibandingkan warna sintetis yang sebagian besar masih impor. Pewarna alam, imbuh dia, juga lebih sehat karena tidak menimbulkan alergi kulit yang biasanya ditimbulkan dari pewarnaan sintetis.
"Batik warna alam juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari batik warna sintetis. trend ke depan, konsumen lebih tertarik pada tekstil yang menggunakan pewarna alam. Apalagi kita segera memasarkan marketplace, kita siap menawarkan banyak opsi pada konsumen. Untuk itu kami terus mendorong IKM terus mengembangkan batik untuk ceruk ini.” kata Hary.
Pada pelatihan itu, bahan baku pewarna yang digunakan adalah kulit pohon mahoni dan ketapang yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Pohon Mahoni digunakan untuk menghasilkan warna merah bata sedangkan Ketapang bisa menjadi warna kuning, cokelat dan hitam tergantung bahan pencampurnya.
“Warna yang dihasilkan bahan alam memang cenderung lebih soft daripada sintetis yang menghasilkan warna terang. Namun, menghasilkan kesan yang lebih elegan,” kata Hary.
Pelatihan yang digelar selama tiga hari dan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur ini, para peserta langsung diajarkan cara membuat dan mebatik dengan pewarna alam. Salah satunya adalah Sri Suryani (40).
Sri mengaku tertarik membatik dengan warna alam karena lebih ramah lingkungan. Sebelumnya dia pernah mendapat pelatihan membatik dengan warna sintetis. “Kalau warna sintetis limbahnya banyak dan tidak baik untuk lingkungan. Dengan warna alam ini saya tertarik untuk mengembangkan,” ujar Sri.
“Kemarin kami diajari cara membuat bahan pewarnanya alami. Kalau biasanya pakai bahan sintetis semua prosesnya hanya dicampur-campur, karena bahannya kulit kayu jadi semuanya direbus dengan kadar yang sudah ditentukan. Hari ini mulai kita untuk pewarnaan,” kata Sri.
Pada tahun ini, Disperindagtam menggelar 43 pelatihan pemanfaatan potensi bahan lokal. Salah satunya adalah membatik dengan menggunakan pewarna alam. Mengingat potensi agro Banyuwangi yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna, seperti rumput laut, kulit manggis, hingga coklat. (humas)