Tingkatkan Standar dan Kualitas, Para Tukang Ikuti Pelatihan dan Sertifikasi
Kamis, 4 Juni 2015
BANYUWANGI – Rendahnya jumlah tenaga kerja konstruksi yang terlatih dan bersertifikat serta kurang luasnya akses pelatihan konstruksi di kantong-kantong tenaga kerja konstruksi di lokasi yang belum terjangkau (remote area) oleh Lembaga Pelatihan Konstruksi menjadikan Pemkab Banyuwangi dan PT Semen Indonesia bekerjasama melatih para tukang yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Pelatihan dan Sertifikasi untuk para tukang ini diikuti 139 tukang asli Banyuwangi , yang meliputi tukang bangunan, tukang cor beton maupun para kepala tukang (mandor).
Dalam kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Bhayangkara, Kamis (4/5) pagi ini, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM-PD) Suyanto Waspo Tondo mengatakan, kegiatan ini adalah bentuk sinergi antara pemkab dengan pihak swasta. “Kami berharap hal ini bisa terus berkelanjutan dan berkesinambungan. Dengan semakin terdidiknya para tukang ini, ke depan taraf hidupnya akan semakin meningkat,” kata Yayan, panggilan akrabnya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur, Gentur Prihantono. “Upaya seperti ini adalah langkah cerdas yang patut diacungi jempol. Kita memang harus mempersiapkan para duta konstruksi ini agar mereka menjadi tenaga terampil yang profesional. Banyak pekerjaan konstruksi tidak selesai karena tenaga terampilnya kurang terdidik. Apalagi kita sudah semakin dekat dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menuntut SDM-nya bersertifikasi,” urai Gentur.
Gentur memberikan saran pada pemkab, pasca pelatihan ini pemkab harus mendata para tukang by name, by address, by picture. “Suatu saat kalau ada pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan mereka, mereka harus dikontak dan dikawal,”pesan Gentur, disambut teriakan setuju dan tepuk tangan para tukang.
Di akhir sambutannya, Gentur mengingatkan para peserta kegiatan ini. “Bidang konstruksi adalah bidang yang menjadi primadona. Tapi kualitas tetap harus diperhatikan. Mulai dari pemilik proyek hingga mandor dan pekerja-pekerjanya juga harus punya tanggung jawab yang bagus terhadap pekerjaannya,”pesan Gentur.
Sementara itu, Manager Komunikasi Pemasaran PT Semen Indonesia, Wachid Fachryandanu mengatakan, pelatihan ini merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh pihaknya. Untuk 2015 ini, penyelenggaraannya diadakan di 5 area, yakni Banyuwangi, Surabaya, Gresik, Rembang dan Pontianak. “Ini adalah bentuk kepedulian kami bagi para tukang. Agar nantinya standar dan kualitas mereka meningkat, ” kata Wachid.
Wachid juga menjelaskan, program ini hanyalah satu di antara program untuk para tukang yang mereka bina. Ada 10.668 anggota komunitas tukang se-Jawa, Bali dan Kalimantan yang bisa menikmati Corporate Social Responsibility (CSR) mereka ini. Program lainnya untuk para tukang sebagian sudah berjalan, antara lain arisan tukang dan pembagian merchandise pada seluruh komunitas tukang.
Dilaksanakan selama 3 hari (4-6/6), para tukang akan mendapatkan berbagai pelatihan. Tak hanya teori, mereka juga turun langsung untuk praktek. Seperti mencampur semen dan pasir dan kemudian digunakan untuk menyemen batu bata, serta melakukan pengecoran.
Para tukang yang mengikuti kegiatan ini merupakan tukang yang sudah terseleksi dan didata langsung oleh BPM-PD. Usia mereka minimal 24 tahun dan maksimal 46 tahun. Selain itu mereka harus berpengalaman sebagai tukang bangunan minimal selama 5 - 10 tahun.
Busairi, salah seorang tukang asal Rogojampi mengungkapkan rasa senangnya bisa ikut pelatihan ini. “Saya senang mendapatkan ilmu lewat kegiatan ini. Sebenarnya setiap hari para tukang sudah terbiasa melakukan apa yang diajarkan disini. Tapi kan kami tidak tahu, apakah yang kami buat itu sudah sesuai standar dan berkualitas atau tidak. Kami tahunya, kalau mandor bilang itu bagus, ya sudah kami anggap bagus. Karena itu, pengetahuan yang kami dapat disini nantinya akan langsung kami praktekkan,” ujarnya. (Humas & Protokol)