Toleransi Beragama, Bupati Hadiri Kebaktian Rohani
Kamis, 16 April 2015
Banyuwangi- Sedikitnya 5.000 umat kristen se Kabupaten Banyuwangi menghadiri Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dalam rangka memperingati Paskah tahun 2015. Agenda tahunan umat kristen ini turut dihadiri oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas beserta jajaran SKPD Pemkab Banyuwangi.
Dihadapan peserta kebaktian, Bupati Anas mengucapkan terimakasih pada umat kristen yang ikut menjaga kerukunan antar umat beragama tetap damai. “Semoga kebahagiaan ini terus memberi warna di Kabupaten Banyuwangi,” kata Bupati Anas mengawali pidatonya di Stadion Diponegoro, Kota Banyuwangi, Selasa (14/4).
Menurut Anas, kerukunan antar umat beragama mesti dijaga untuk bekerjasama menjalankan program pembangunan. Sehebat apapun pemimpin, kata dia, tidak akan berhasil membangun daerahnya tanpa peran aktif masyarakat dan umat beragama, termasuk pemeluk kristen.
“Hasilnya angka kemiskinan turun jadi 9,5 persen dari 20,4 persen pada 2010. Di Kecamatan Kalipuro bahkan jadi 6 persen dari 40 persen di tahun yang sama. Ini bukan semata-mata kerja pemkab, tapi partisipasi publik untuk terus mendorong pembangunan,” ujar Bupati Anas.
Selain mereduksi angka kemiskinan, pendapatan per kapita penduduk melonjak 70 persen dari Rp 14,9 juta per tahun pada 2010 menjadi Rp 25,5 juta pada 2014. Di bidang pendidikan, tiga perguruan tinggi negeri berhasi berdiri seperti Universitas Airlangga, Poltek Negeri Banyuwangi, dan Sekolah Pilot Negeri Blimbingsari.
Ia yakin, keberadaan ketiganya mampu mecetak SDM berkualitas sekaligus pintu bagi Banyuwangi untuk membangun daerah. “Sekolah pilot di sini terbesar kedua setelah Curug. Kebutuhan pilot terus meningkat karena ada backlog pilot 800 orang setiap tahun di dunia,” Anas menuturkan.
Meski berhasil mencetak potret positif ekonomi makro di Banyuwangi, Bupati Anas mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh pemkab dan masyarakat. “Tidak ada artinya ekonomi makro bagus tapi kehidupan beragama penuh konflik. Oleh karena itu, saya minta pendeta dan umat kristen ikut menjaga kerukunan beragama,” ujarnya.
Ia mencontohkan indeks kebahagiaan hidup sepertihalnya di Finlandia. Di sana, Anas membandingkan, indeks kebahagiaan hidup tercatat tinggi dengan ditopang oleh kemajuan ekonomi yang positif. Adapun di Banyuwangi, ia melihat sejatinya memiliki kemiripan dengan Finlandia karena angka harapan hidup mencapai 69 tahun. “Saya terus berharap umat beragama hidup berdampingan untuk mendukung dan membangun daerah,” kata Bupati Anas.
Setiap tahun, umat kristen di Banyuwangi kerap menggelar Kebaktian Kebangunan Rohani yang tahun ini mengambil tema 'Pelipatgandaan Mujizat'. Turut hadir seorang pendeta asal Jakarta, Niko Nyotoraharjo. Tema ini sengaja dipilih karena agenda disisipi dengan pengiriman doa kepada umat kristen yang menderita sakit. (Humas Protokol)