Tradisi Puter Kayun, Naik Dokar Menuju Watudodol

Minggu, 18 Agustus 2013


BANYUWANGI – Masyarakat Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi memiliki tradisi yang unik, yakni puter kayun. Sebuah tradisi, dimana masyarakat setempat mengendarai dokar dari  Boyolangu menuju Watudodol bolak –balik. Tradisi unik ini dilaksanakan setiap hari ke sepuluh Lebaran.

Sesampai di pantai Watudodol mereka menggelar selamatan sebagai perwujudan rasa syukur atas rezeki yang mereka dapat selama setahun terakhir.  Masyarakat lokal mengganggap tradisi puter kayun itu sebagai napak tilas pembangunan jalan Panarukan – Banyuwangi pada zaman Kolonial Belanda. Yang mana saat itu penjajah Belanda sangat kejam, sehingga banyak yang meninggal dunia saat mengerjakan pembangunan jalan. Singkat cerita tradisi puter kayun ini diyakini sebagai bentuk penghargaan kepada para leluluhur yang telah selesai menyelesaikan jalan ini.  

Sebelumnya tradisi puter kayun ini hanya dilakukan masyarakat yang hanya memiliki dokar saja, dengan tujuan membawa keluarganya untuk berwisata ke Watudodol. “Tetapi tradisi ini telah dilestarikan dan menjadi  agenda wisata Banyuwangi. Ritual puter kayun ini diawali dengan nyekar ke makam Buyut Jaksa, pada hari Jum’at sore ,” terang Edi Santoso, Ketua panitia.

Sementara itu,  Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, sangat mengapresiasi tradisi puter kayun ini. Itu terucap dalam sambutannya saat memberangkatkan arak-arakan ini. “Partisipasi masyarakat terus bertambah. Secara swadaya, masyarakat mampu melestarikan tradisi leluhurnya,” ucap Bupati Anas.

Usai memberikan sambutan, Bupati Anas memecah kendi di  depan dokar sebagai tanda dimulainya tradisi puter kayun. Setelah itu Bupati Anas beserta Ny Ipuk Fiestiandany dan Putra Azka menaiki dokar dan ikut iring-iringan tersebut. (Humas dan Protokol) 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :