Triple Burden, Masalah Terbesar Bagi Dunia Kesehatan di Indonesia
Selasa, 22 November 2016
BANYUWANGI – Wakil Bupati Yusuf Widyamoko mengatakan, masalah kesehatan triple burden masih menjadi tantangan pembangunan kesehatan Indonesia. Triple Burden tersebut mencakup masih tingginya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular, dan penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. Hal itu diungkapkan Yusuf saat membacakan sambutan Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52, Selasa pagi (22/11).
Data yang dirilis Global Burden of Disease 2010 dan Health Sector Review 2014, kata Yusuf, menyebutkan kematian akibat penyakit tidak menular, seperti stroke, menduduki peringkat pertama. Padahal 30 tahun lalu, penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan atas, tuberkulosis, dan diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Pergeseran pola penyakit ini ditengarai terjadi akibat perubahan gaya hidup masyarakat.
“Karena itu, sejalan dengan peringatan HKN ke – 52 ini, kami akan menghimbau pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang harus dimulai dari keluarga. Karena keluarga adalah bagian dari masyarakat terkecil yang membentuk kepribadian. Kegiatan GERMAS Hidup Sehat dilakukan dengan cara melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksakan kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, serta menggunakan jamban,” ujar Yusuf.
Hari Kesehatan Nasional jatuh setiap tanggal 12 November. Namun karena bertepatan dengan banyak kegiatan di lingkungan Pemkab Banyuwangi, peringatan tersebut baru dilakukan hari ini. Peringatan yang merupakan hari besar bagi insan kesehatan ini juga dirangkai dengan penyerahan hadiah pada beberapa puskesmas di Banyuwangi yang berprestasi. Yakni puskesmas-puskesma yang meraih predikat terbaik dalam Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP) dan Gerakan Puskesmas Berhati MP3 tahun 2016. Di antaranya Puskesmas Sumberberas-Muncar, Kalibaru Kulon, Tegalsari, Kertosari, Tembokrejo-Muncar, Tampo-Cluring, dan Wonosobo-Srono.
Sepanjang tahun 2016, berbagai puskesmas di Banyuwangi berhasil meraih banyak prestasi yang membanggakan. Dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, dr Widji Lestariono, selain 7 puskesmas tadi, berbagai puskesmas lain juga banyak menelurkan terobosan-terobosan yang berkualitas. Diantaranya Puskesmas Sempu dan Kertosari yang berhasil meraih predikat Akreditasi Utama dari Komisi Akreditasi FKTP, Puskesmas Kertosari menjadi juara II Puskesmas Berprestasi kategori Puskesmas Perkotaan Tingkat Provinsi. Puskesmas Sempu juga terpilih sebagai puskesmas terbaik di Jawa Timur. Puskesmas Tampo menjadi Top 99 Sinovik 2016 dengan program ‘PUJASERA’ dan Puskesmas Singotrunan menjadi Top 99 Sinovik 2016 dengan program ‘SIRAMIGIZI’. “Prestasi ini patut kita apresiasi. Ke depan kami akan terus mendorong agar inovasi ini terus tumbuh,” kata Rio, sapaan akrabnya.
Selain puskesmas, penghargaan juga diberikan untuk desa siaga. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki sumber daya, kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Tiga desa yang terpilih menjadi Desa Siaga Terbaik adalah Desa Tampo, Wringinrejo dan Kaligondo.
Upacara yang diikuti ratusan praktisi dan akademisi kesehatan di Banyuwangi ini juga dirangkai dengan Launching Ceples Nyamuk (Cukup Enam Puluh Menit Lenyapkan Sarang Nyamuk) yang ditandai dengan pemukulan kentongan secara bersama-sama.Selain itu juga ada tes kesehatan gratis bagi masyarakat Banyuwangi. Tes kesehatan gratis yang dilakukan di depan Pemkab Banyuwangi meliputi tensi tekanan darah, pemeriksaan gula darah, asam urat dan kolesterol. (Humas)