Tumpeng Sewu Banyuwangi Dihadiri Ribuan Masyarakat Dari berbagai Penjuru
Jumat, 25 Agustus 2017
BANYUWANGI– Banyuwangi untuk yang kesekian kalinya kembali menggelar Festival Tumpeng Sewu 2017. Bukan hanya sebuah ritual adat, namun festival ini kini menjadi atraksi wisata Banyuwangi yang diminati wisatawan.
Festival Tumpeng Sewu digelar masyarakat Desa Kemiren, Kamis malam (24/8). Pada event ini ribuan masyarakat dari berbagai penjuru desa maupun wisawatan hadir di desa Kemiren untuk menikmati ribuan Tumpeng Sewu.
Sejak pukul 17.30 Wib, jalan menuju Desa Adat Kemiren telah ditutup. Semua warga yang ingin menuju desa ini harus berjalan kaki demi menghormati ritual adat ini. Sementara warga telah menyuguhkan ribuan tumpeng di sepanjang jalan.
Sekitar pukul 18. 00 Wib atau usai sholat Magrib, ritual ini mulai dilangsungkan. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya. Usai kumandang do’a yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan tumpeng bersama.
Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar seminggu sebelum Idul Adha. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.
Setiap rumah warga Using di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur.
Suasana guyub dan kebersamaan pun terasa di sini. Meskipun saat makan tumpeng warga baru kali pertama bertemu. Mereka hanyut dengan suasana yang penuh kebersamaan ini. “Ehm enak sekali boleh nambah dong. Karena saya tak pernah merasakan masakan ini,” kata Rina N J, yang berasal dari Jakarta ini.
Gadis berjilbab ini mengaku sangat suka dengan pecel pithik ini. Meski baru pertama kali sudah kesengsem rasanya. Hal yang sama juga diungkapkan Marisa, gadis berkaca mata ini juga mengakui kelezatan makanan tradisional khas Banyuwangi ini. “Kalau boleh bungkus boleh dong, enak banget nich,” katanya.
Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Djajat Sudrajat mengatakan Banyuwangi terus konsisten mengangkat tradisi lokal Banyuwangi dalam balutan Banyuwangi Festival. Menurut Sekkab, tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak diminati wisatawan. Saat ini banyak travel yang membuat paket-paket wisata yang memasukkan atraksi budaya sebagai salah satu destinasinya.
“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Kami akan terus mendorong bentuk-bentuk wisata seperti ini. Karena wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi. Mereka yang setelah dari Gunung Ijen, atau sekedar mengunjungi Banyuwangi bisa menikmati dulu tradisi Kemiren,” ujarnya.
Dari waktu ke waktu Banyuwangi terus memperlebar sayap destinasi wisatanya. Mulai kesenian pariwisata syariah hingga ritual adat. "Tradisi semacam tumpeng sewu ini akan memperluas segmentasi pasar turis mancanegara. Apalagi Banyuwangi sendiri telah bersiap-siap menjadikan bandaranya dapat dikases secara internasional,” katanya.
Sampai saat ini wisatawan Banyuwangi sendiri terus meningkat. Pada 2016 wisatawan mancanegara mencapai 70 ribu, dan wisatwan domestik sejumlah 4 juta juta orang. "Target kami tahun 2017 ini wisman tembus 85 ribu, dan domestik 4, 5 juta orang. Saat bulan ini sudah 3,4 jta wisatawan yang melancong ke Banyuwangi," pungkas Bramuda. (*)