Uniknya Banyuwangi, Suguhkan Even Fashion di Atas Trotoar
Jumat, 9 Oktober 2015
BANYUWANGI – Banyuwangi memang punya segudang kreativitas untuk mengangkat potensi daerah. Trotoar yang menjadi fasilitas pejalan kaki pun bisa disulap menjadi catwalk peragaan fesyen berkelas untuk mempromosikan busana batik lokal. Perpaduan ragam desain menarik yang dibawakan oleh para model disepanjang catwalk pinggir jalan ini, telah melahirkan sebuah even fashion sekaligus pertunjukkan yang unik dan tidak ada duanya.
Pagelaran busana ini diikuti 170 orang peserta yang membawakan busana batik hasil desain sendiri maupun hasil kolaborasi dengan desainer lokal. Peserta yang berlenggak lenggok di atas catwalk sepanjang 350 meter ini terbagi atas kategori anak yang membawakan tema busana kasual, remaja dengan tema busana pesta dan dewasa yang membawakan busana kerja.
Saat pertunjukkan dimulai, para model lokal ini pun tampil layaknya model profesional. Dimulai dengan kategori anak, beragam busana batik kasual dengan warna-warna cerah pun mendominasi. Berlanjut dengan kategori remaja yang membawakan busana pesta, kain batik berhasil disulap menjadi aneka busana yang berkesan elegan dan mewah. Sedangkan di busana kerja yang dibawakan oleh kategori dewasa, para model pun tampil dengan desain busana yang lebih formal.
“Membuat pagelaran berkualitas tidak harus ditempat yang mewah. Di trotoar pun asalkan nyaman bisa menjadi media yang prestis untuk memamerkan potensi daerah. Ini sekaligus sebagai cara kami untuk memberikan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Melalui even ini kami juga ingin membuat industri batik daerah terus bergairah,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas usai menyaksikan Batik On the Pedestrian, di Taman Blambangan, Jumat (10/10).
Anas menambahkan even yang menjadi rangkaian Banyuwangi Batik Festival 2015 ini juga untuk lebih membumikan kekayaan batik di tengah masyarakat. "Banyuwangi sekarang punya sedikitnya 52 motif batik. Dengan ajang ini, batik bisa menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat," ujarnya.
Sementara itu Putri Indonesia Anindya Kusuma Putri yang ikut menyaksikan acara mengatakan kalau pagelaran busana yang dibuat oleh Banyuwangi sangat unik dan baru pertama kali ditemui olehnya. Dia cukup surprise karena sarana umum bagi pejalan kaki bisa menjadi catwalk yang menarik. “Ini jadi pengalaman fesyen yang baru. Banyuwangi menunjukkan kalau daerah mampu membuat even yang kreatif,” kata Anindya.
Anindya juga mengapresiasi karya busana yang dibawakan oleh para model. Busana batik yang ditampilkan menurutnya sangat variatif dan lengkap mulai desain yang formal sampai busana batik yang dipakai untuk sehari-hari. “Even ini menunjukkan kreatifitas yang tinggi dari masyarakat lokal. Ini menjadi salah satu aset Banyuwangi yang menjanjikan ungtuk mengembangkan batik daerah. Masyarakat Banyuwangi harus bangga dengan semua ini,” cetus Anindya.
Salah satu peserta kategori remaja Tarisa Alya Amira (14) menceritakan antusiasmenya mengikuti Fashion On The Pedestrian ini. Even ini menjadi wadah bagi Tarisa untuk menyalurkan pasionnya dibidang model dan fesyen. “Awalnya kurang pede karena baru pertama kali ikut, palagi saat audisi harus bersaing dengan 400 an peserta. Tapi sekarang sangat bangga karena bisa tampil disini,” kata Tarisa.
Untuk busana yang ditampilkannya, Tarisa menggandeng desainer lokal. Waktu yang dibutuhkan dari mendesain pakaian sampai jadi selama satu bulan. “Saya senang bisa menuangkan ide bersama desainernya. Even ini memberikan pengalaman baru yang sangat berkesan,” pungkas Tarisa. (Humas Protokol)