Warga Antusias Ikut Kursus Bahasa Asing
Jumat, 25 September 2015
BANYUWANGI – Kursus bahasa asing di tingkat desa yang digelar pemkab Banyuwangi mendapat antusiasme warga. Diawali sejak Mei 2015 lalu, peserta kursus dari segala usia ini menunjukkan semangat yang menggelora untuk belajar. Mereka merasa senang karena bisa belajar dan praktek tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Sore itu, di salah satu ruang di kantor kelurahan Sobo terlihat belasan orang mulai anak-anak usia sekolah hingga ibu-ibu paruh baya tengah duduk mengelilingi meja. Mereka saling berbincang menggunakan Bahasa Inggris sambil sesekali bergurau.
“What do you think about that film, isn’t it a good film?” tanya Indah Permatasari, sang instruktur kepada Suhaifiyah. Wanita usia 53 tahun itu pun menjawab lugas, “Good movie. I like that,” ujarnya tegas sambil mengacungkan jempolnya ke atas. Peserta kursus yang lain pun langsung tertawa mendengar jawaban yang lantang itu.
Itulah gambaran kecil suasana kursus bahasa asing berbasis desa. Kursus ini dilaksanakan secara serentak di 217 desa dan kelurahan, diikuti 2670 peserta yang didampingi 217 tutor. Kursus bahasa asing ini sebagai upaya memfasilitasi masyarakat di desa dan kelurahan di Banyuwangi bisa belajar sejumlah bahasa internasional, mulai Bahasa Inggris, bahasa Arab, hingga Mandarin.
“Tiap kelompok belajar berhak memilih bahasa yang mereka minati. Kami gelar di tingkat desa, agar masyarakat yang ingin menambah skill bahasanya tak perlu jauh-jauh datang ke kota lagi. Apalagi tahun depan kita sudah dihadapkan pada Masyarakat Ekonomi Asean, tentunya traffic kedatangan wisatawan dan orang asing ke Banywuangi semakin tinggi. Untuk itu kami berusaha membekali kemampuan bahasa hingga di desa,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Sulihtiyono.
Kursus ini tidak dipungut biaya, karena semua anggaran telah disiapkan pemerintah. Peserta kursus, lanjut Sulihtiono, adalah siapa saja, dari profesi apapun dan masih usia produktif.
Seperti yang terlihat di Kelurahan Sobo tadi, selain diikuti Suhaifiyah yang paruh baya, kursus ini juga diikuti Anis Eliza (44). Anis mengaku, setelah mengikuti kursus ini efektif selama dua bulan kemampuan percakapan dalam bahasa inggris mulai meningkat. “Kebetulan rumah saya di pinggir jalan, jadi sering ada bule yang lewat depan rumah menanyakan arah. Dulu sebelum kursus, saya tidak bisa menunjukkan arah dengan bahasa Inggris. Tapi sekarang saya lebih pede, karena saya sudah bisa berbahasa Inggris. Malahan sekarang saya menunggu-nunggu, kapan ada bule tanya arah lagi,” cerita Anis sambil bersemangat dan terkekeh.
Ditambahkan Sulih, semua peserta harus menyelesaikan paket belajar dengan total waktu 201 jam yang dibagi dengan tatap muka tiga kali seminggu masing-masing 3 jam. Sedangkan, waktu pelaksanaan kursusnya tergantung kesepakatan instruktur dan peserta. Bisa pagi, sore maupun malam. (Humas & Protokol)