Warga Kurang Mampu Nikmati Nasi Bungkus Gratis
Rabu, 26 Agustus 2015
BANYUWANGI – Pasca ditetapkan sebagai Kota Welas Asih (Compassionate City) 15 Agustus 2014 lalu, Banyuwangi terus berbenah. Tak hanya dinyatakan sebagai kabupaten yang memberikan perlindungan hak-hak anak hingga berbuah penghargaan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tapi beragam kegiatan juga digagas demi menyejahterakan rakyat kecil, di antaranya Festival Bedah Rumah dan Jazz Ijen Banyuwangi yang digelar untuk misi kemanusiaan.
Bak gayung bersambut, keinginan untuk memberikan perhatian kepada grassroot (akar rumput) juga dilakukan oleh aparat Kelurahan Penganjuran. Disupport penuh oleh warga masyarakat Kelurahan Penganjuran, setiap hari mereka membagi-bagikan nasi bungkus atau nasi kotak gratis kepada warga kurang mampu. Bagi-bagi nasi bungkus tersebut digelar di Simpang Lima Banyuwangi mulai pukul 11.00 WIB.
Seperti suasana yang terlihat Rabu (26/8) bertepatan dengan jam makan siang. Lurah Penganjuran Eko Widodo bersama para stafnya turun ke jalan untuk membagikan makanan gratis. Tak semua yang melintas mendapatkan jatah makan siang tersebut, melainkan hanya orang-orang yang berhak. “Nasi bungkus gratis ini kami peruntukkan bagi warga masyarakat yang kurang mampu. Seperti tukang becak, penarik gerobak sampah, pesapon, penjual es, pengamen jalanan dan pengemis,” kata Eddo, sapaan karib Lurah Penganjuran. Dalam sehari rata-rata nasi bungkus yang dibagikan jumlahnya sebanyak 50 – 60 bungkus. Namun tak jarang pula jumlahnya lebih dari itu. Seperti siang ini, nasi yang dibagikan sebanyak 117 bungkus.
Eddo menjelaskan, kegiatan yang dimulai sejak 14 Agustus 2015 lalu tersebut awalnya terinspirasi oleh pengalaman pribadinya. Saat berkunjung ke Mataram dan bersepeda berkeliling kota, dirinya lupa membawa dompet. Padahal saat itu dia kehausan dan ingin membeli minuman. Tak kuasa menahan haus, Eddo memberanikan diri untuk meminta air putih di rumah warga terdekat. Tanpa disangka, si pemilik rumah yang begitu ramah mempersilahkannya untuk mengambil air minum sepuas yang dia inginkan.
“Saat saya menceritakan pengalaman ini pada para staf saya, ternyata respon mereka begitu baik. Akhirnya kami tergerak untuk membuat program bagi-bagi makanan gratis ini. Alangkah indahnya jika di sekitar kita ada yang membutuhkan, tanpa mereka harus meminta, ada yang dengan sukarela memberi. Ini akan semakin mengguyubkan hubungan satu sama lain,” terang Eddo.
Menariknya, saat program tersebut disosialisasikan pada warga Kelurahan Penganjuran, mereka pun menyambut baik. Mereka bersedia berbagi dengan orang yang membutuhkan dengan cara turut andil menyumbangkan nasi bungkus. “Warga kami terdiri atas 31 RT. Jika dibagi 30 hari, praktis 1 RT kebagian 1 kali menyumbang dalam sebulan. Dan mereka menyatakan sama sekali tidak keberatan untuk beramal seperti ini,” kata Eddo.
Eddo menambahkan, saat hari kerja (Senin – Jumat), nasi bungkus disediakan oleh warga Penganjuran. Namun untuk hari Sabtu – Minggu, Eddo dan timnya menggali dari potensi lain seperti sekolah – sekolah atau perbankan yang berlokasi di wilayah Penganjuran. Pihaknya juga dengan terbuka menerima bantuan dari berbagai pihak. Seperti beberapa waktu lalu ada donatur dari Bontang yang ikut mentransfer sejumlah uang untuk kemudian dirupakan menjadi nasi bungkus yang bisa dinikmati warga yang kurang mampu.
Didasari keinginan membantu sesama tersebut, Eddo mengajak berbagai kalangan untuk lebih aktif membantu warga yang kurang beruntung. Misalnya dengan cara ikut menyumbang lewat instansinya. Atau bila ada masyarakat yang ingin melakukan hal serupa (berbagi nasi bungkus, Red) di tempat-tempat lain, pihaknya turut memberikan dukungan.
Tujuannya satu, tandas Eddo, yakni ingin menciptakan suasana yang ramah dan welas asih untuk semua, selaras dengan program Kabupaten Banyuwangi. “Banyuwangi kita rasakan tambah maju, tapi tetap di sana-sini ada warga yang perlu kita bantu. Jangan sampai mereka berpikiran mereka tidak mendapatkan perhatian dan merasa kota ini kejam bagi mereka. Dengan memberikan bantuan nasi bungkus, paling tidak kita ringankan beban mereka. Doa mereka bagi kita akan turut memajukan Banyuwangi, dan membuat kota ini damai dan sejahtera,” ujar Eddo.
Sutarman, salah seorang tukang becak yang kebetulan lewat di lokasi tersebut menyambut dengan senang sebungkus nasi yang diberikan padanya. “Alhamdulillah, tadi pagi saya cuma sarapan sedikit. Siang ini saya tidak perlu keluar uang untuk beli nasi karena sudah dapat nasi gratis. Maturnuwun,” kata pria berusia 54 tahun itu dengan polos. (Humas & Protokol)